Meet the Living Goddess in Nepal

“It is a joked that Nepal has three religions – Hinduism, Buddhism and Tourism” (Lonely Planet)

Processed with VSCO with nc preset

Tribhuvan Museum, Kathmandu

Salah satu perjalanan wisata yang tidak akan saya lupakan adalah rangkaian wisata regional Asia Selatan. Tepatnya di tahun 2014, saya dan Matthew memulai perjalanan dengan mengunjungi India, Maladewa, Sri Lanka, Bangladesh dan sementara berakhir di Nepal. Everest! Itu yang ada di benak saya ketika mendengar negara ini disebut. Daya pikat luar biasa tentunya bagi para pendaki mancanegara. Namun jangan berkecil hati jika mendaki gunung jauh dari kegemaran Anda. Sungguh masih banyak sekali daya tarik Nepal diluar urusan pendakian gunung.

Processed with VSCO with nc preset

Bodhnath Temple

Sebagai negara landlock di daratan Asia Selatan yang berbatasan langsung dengan India dan Tiongkok, Nepal memiliki daya tarik luar biasa dari sisi lansekapnya yang bervariasi dan perbauran identitas India – Tiongkok yang berpadu sempurna. Dikenal dengan sebutan “The Land of Temples”, Nepal menjadi destinasi wisata budaya dan meditasi yang menarik bagi masyarakat dunia. Negara ini menjadi semakin istimewa karena disinilah Gautama Buddha dilahirkan. Dan tepat di hari raya Waisak 2017, catatan perjalanan ini mulai saya tulis.

2017-03-12 04.16.42 1 (2).jpg

Tiba di Tribhuvan International Airport kami segera menuju penginapan kami, Hotel Mums Home yang terletak di daerah Thamel, Kathmandu. Thamel merupakan daerah yang populer bagi para wisatawan.  ‘Kuta nya Nepal’ kalau kami berikan sebutan. Ibarat ‘surga’ bagi para wisatawan terutama pendaki, Thamel adalah pusat komersial Kathmandu yang terdiri dari beragam restoran selera Timur hingga Barat, beragam bentuk penginapan budget backpacker hingga menengah, toko-toko cinderamata hingga toko serba ada bagi para pendaki, kios-kios agen perjalanan, hingga seniman tato henna yang tak sungkan untuk berlari mengikuti Anda. Beragam rupa wisatawan juga akan Anda temukan disini. Mulai dari turis dengan pakaian rapi jali hingga macam turis bergaya hippie.

Processed with VSCO with hb2 preset

The Nepalese papier mache dolls

Dari Thamel kami berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square. Durbar Square adalah kompleks kuil Kerajaan Nepal yang menjadi jantung kota tua dan menyuguhkan arsitektur kuil-kuil tua yang pastinya sangat spektakuler. Terletak di Kathmandu Valley, Durbar Square didirikan tepat di depan istana kerajaan kuno Nepal. Situs ini termasuk dalam salah satu situs warisan penting dunia – UNESCO World Heritage Sites.

Processed with VSCO with a6 preset

Pigeons at Durbar Square

Di kompleks Durbar Square, kami menyempatkan untuk mengunjungi Tribhuvan Museum. Museum ini dulunya adalah bagian dari istana yang dipergunakan oleh Raja Tribhuvan Bir Bikram Shah untuk mengamati aktivitas penduduk. Dari jejeran jendela yang mendominasi bangunan, Raja Tribhuvan memastikan ada kepulan asap dari setiap dapur rumah penduduk, yang artinya tidak ada keluarga yang kelaparan. Anda akan dibuat kagum dengan pemandangan istana dan kota dari puncak museum ini.

Processed with VSCO with hb1 preset

Nepalese kid with the traditional black eye makeup

Processed with VSCO with a6 preset

Tibeti Singing Bowls

Selepas mengeksplorasi Tribhuvan Museum dan gang-gang kecil di area Durbar Square, kami tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat secara langsung ‘Dewi Hidup’ yang dipuja oleh penduduk Nepal, Kumari Devi! Kumari (Sansekerta: Kaumarya) adalah sebutan “Puteri” untuk gadis kecil ‘terpilih’ yang diyakini oleh penduduk Nepal sebagai reinkarnasi Dewi Durga. Diseleksi melalui serangkaian ritual tantangan khusus. Selain itu seorang calon Kumari adalah gadis kecil berusia antara 4 hingga 7 tahun yang memiliki 32 persyaratan fisik dan horoskop sesuai kriteria. Ketika seorang gadis terlah terpilih menjadi Kumari Devi, maka ia dan keluarganya akan dipindahkan ke rumah khusus di kompleks Durbar Square, yakni Kumari Bahal.

Processed with VSCO with hb1 preset

Kumari Devi (Image source: pri.org)

Layaknya seorang puteri, hidup seorang Kumari Devi tentunya sangat dimanja dan dipuja. Namun ruang gerak dan interaksi seorang Kumari Devi tentunya tidak lagi sama seperti rakyat biasa. Ia hanya diperbolehkan untuk berinteraksi dengan keluarga inti dan tidak diperbolehkan untuk keluar dari Kumari Bahal melainkan hanya dalam perayaan-perayaan khusus. Di Kumari Bahal, dalam satu hari Kumari Devi akan muncul memperlihatkan diri kepada pengunjung dengan pakaian dan riasan tradisional. Duduk sejenak selama kurang lebih lima menit, Kumari Devi dipelihatkan kepada pengunjung melalui jendela lantai dua Kumari Bahal. Pengunjung dilarang untuk mengabadikan sosoknya. Seorang Kumari Devi akan dipuja hingga akhirnya ia memasuki masa pubertas. Selepas ia memperoleh periode menstruasi, Dewi Durga dipercayai tidak lagi bersemayam dalam tubuh gadis tersebut. Ritual pemilihan seorang Kumari Devi baru akan langsung dihelat.

Processed with VSCO with hb2 preset

Swayambunath Stupa

Perjalanan wisata di Kathmandu tentunya tidak lengkap jika tidak mengunjungi Swayambhunath. Dikenal dengan stupa iconic-nya, Stupa Swayambhunath tercatat sebagai salah satu situs warisan dunia (UNESCO World Heritage Site) dan merupakan salah satu kuil penting bagi umat Buddha dunia. Disini rangkaian doa-doa dan mantra digumamkan, sambil sesekali para pendoa berjalan sambil menggerakkan prayer wheels yang melingkar disepanjang kuil.

Processed with VSCO with a6 preset

The prayer wheels, Swayambunath Temple

Selain Swayambhunath, objek wisata lain yang wajib masuk dalam rincian perjalanan Anda adalah Stupa Boudhnath. Sama halnya dengan Swayambunath Stupa, Kuil Boudhnath juga tercatat sebagai salah satu situs penting warisan dunia. Stupa Boudhnath termasuk salah satu stupa terbesar dunia. Cobalah naik ke area atas stupa, Anda akan disuguhi panorama warna-warni bangunan rumah penduduk, restoran, dan penginapan disekeliling stupa.

Processed with VSCO with a6 preset

Nepalese Chilli Chips

Processed with VSCO with a6 preset

The Boudhnath Stupa

2017-05-12 03.58.05 1.jpg

The Boudhnath Stupa

Puas mengeksplorasi situs-situs budaya penting di Kathmandu, kami memutuskan untuk menikmati keindahan pegunungan Himalaya dari dataran tinggi Nagarkot. Hanya berjarak 32 kilometer dari Kathmandu, Nagarkot terkenal sebagai spot terbaik untuk menikmati keindahan matahari terbit dan tenggelam di sejajaran Pegunungan Himalaya. Keindahan Pegunungan Himalaya dapat Anda nikmati sembari duduk menikmati teh hangat di balkon hotel. Sempurna!

Oh ya, jika ingin menambah kesan atas kunjungan di Nepal, jika berminat Anda dapat mengikuti kelas meditasi atau yoga yang banyak ditawarkan sejumlah resort dan penginapan di Nagarkot. Kesempatan semenarik ini tentunya tidak saya lewatkan.

Processed with VSCO

Himalaya Mountains, Nagarkot

Kalgoorlie: Australia’s Golden Outback

Processed with VSCO with hb1 preset

Kalgoorlie-Boulder

Untuk pertama kalinya sejak satu bulan saya resmi bermukim di Perth, Australia Barat, saya dan suami memutuskan untuk bepergian sejenak dari hiruk pikuk kota Perth. Destinasi tujuan kami kali ini adalah kota dengan keunikan budaya Australia yang sesungguhnya, yakni City of Kalgoorlie-Boulder atau kerap disebut Kalgoorlie-Boulder. Terletak 596 kilometer dari Timur Laut Ibukota Australia Barat, Kalgoorlie-Boulder merupakan kota dengan luas wilayah terbesar di Australia, dan menempati urutan ketiga kota terluas di dunia. Kota ini memiliki kekayaan alam luar biasa yang berhasil menarik minta para imigran dunia untuk ‘menyerbu’ Kalgoorlie-Boulder sejak tahun 1880-an. Emas!

Processed with VSCO with c1 preset

Emu, Hammond Park

Processed with VSCO with hb1 preset

Patrick Hannan

Processed with VSCO with hb2 preset

One of the old hotel in Kalgoorlie, Court Hotel

Sejak tersebarnya berita keberadaan ladang emas di sejumlah titik Australia Barat tahun 1980-an, yang diikuti dengan gelombang “gold fever” di area Kalgoorlie-Boulder, praktis kota ini berubah 180 derajat menjadi kota yang paling dituju oleh para penambang emas tradisional dari beragam belahan benua. Bahkan daya tarik ladang emas Kalgoorlie-Boulder berhasil mendatangkan Herbert Hoover, Presiden ke 31 Amerika Serikat untuk ikut berburu peruntungan emas di kota ini. Salah satu peninggalan bersejarah Hoover adalah The Hoover Mirror, yakni cermin besar berpirugakan ukiran kayu pemberian Hoover untuk hotel ‘terfavorit’ nya di Kalgoorlie-Boulder, yakni The Palace Hotel.

Processed with VSCO with hb2 preset

The Palace Hotel

Yang unik dari Kalgoorlie, meskipun peradaban terus bergerak, kota ini berkembang tanpa merubah wajah kota tradisional Australia. Terbukti dari beragam hotel-hotel kuno yang berjajar, arsitektur beragam bangunan dan rumah-rumah penduduk yang keberadaannya seakan tak mudah tergerus oleh peradaban modern. Salah satu situs wisata yang menarik untuk dikunjungi adalah Boulder Town Hall. Berdiri sejak tahun 1908, ruang publik yang dulunya adalah berfungsi sebagai balai kota dan concert hall ini menyimpan mahakarya pelukis dunia, Philip Goatcher, yakni The Goatcher Curtain (1908).

Processed with VSCO with hb2 preset

Philip Goather’s Curtain at the Boulder Town Hall

Processed with VSCO with hb2 preset

Boulder Town Hall

Selain mempertahankan beragam kekayaan situs sejarah, salah satu tradisi Australia yang masih dipertahankan disini adalah permainan “Two Up”, lebih tepatnya disebut judi tradisional Australia. Cikal bakal permainan ini pertama kali dimainkan oleh para serdadu perang Australia di era Perang Dunia Pertama. Permainan ini dimainkan dengan cara melempar dua koin ke udara dengan tebakan sisi ganda mana yang muncul, yakni sisi “heads” atau “tails“. Hingga saat ini permainan Two Up hanya legal dimainkan di Hari Nasional Anzac, dan selain Hari Nasional Anzac, permainan ini hanya legal dimainkan di area Kalgoorlie, tepatnya di padang gurun yang terletak 7 kilometer dari kota Goldfields.

Processed with VSCO with c1 preset

In the middle of Two Up rings

Processed with VSCO with n1 preset

The Two Up Ring

Processed with VSCO with a6 preset

Two Up

Selain mengunjungi arena permainan Two Up, kami menyempatkan untuk mengunjungi pasar rakyat Kalgoorlie-Boulder yang diadakan sebulan sekali, yakni tepatnya di minggu ketiga. Beragam karya kerajinan lokal mulai dari perhiasan dari bebatuan, madu alami, hingga sabun batangan herbal banyak dijajakan disini.

Processed with VSCO with hb1 preset

The Boulder Market Day

Setelahnya, kami memiliki agenda utama yakni mengunjungi salah satu area penambangan emas yang masih aktif di kota ini, yakni Super Pit Kalgoorlie Consolidated Gold Mines (KCGM) – yakni tambang emas terbesar kedua di Australia. Tidak sembarang pengunjung dapat masuk tentunya. Kunjungan hanya dapat dilakukan melalui agen wisata tur Super Pit, yakni melalui Kalgoorlie Tour & Charters.

Kebijakan khusus yang wajib dipenuhi peserta tur ini adalah tubuh wajib bebas dari kandungan alkohol. Secara acak akan dilakukan uji kadar alkohol tubuh, yakni melalui breath test. Selain itu peserta diwajibkan mengenakan pakaian dan celana panjang disamping mengenakan beberapa perlengkapan standar minimum keamanan, yakni helm pelindung dan kacamata khusus. Biaya tur Super Pit ini cukup terjangkau, yakni dewasa sebesar $45 dan anak-anak $25.

Processed with VSCO with a6 preset

Super Pit Kalgoorlie Consolidated Gold Mines (KCGM)

Processed with VSCO with hb2 preset

Super Pit KCGM

Tidak puas hanya mengunjungi Super Pit KCGM, kami tentunya tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Hannans North Tourist Mine. Area wisata emas ini pada awalnya adalah pertambangan Hainault yang berdiri sejak 1893 dan pada akhirnya dibuka untuk kunjungan umum sejak tahun 1972. Kompleks pertambangan tua ini telah dimodifikasi sedemikan rupa sehingga memudahkan pengunjung untuk mengenal proses penambangan tradisional hingga peradaban para penambang saat itu.

Processed with VSCO with hb1 preset

Hannans North

Processed with VSCO with hb2 preset

Australian traditional gold mining

Sebagai penutup kunjungan kami di Kalgoorlie-Boulder, “Questa Casa Brothel Tour” tentunya sangat saya untuk dilewatkan. Brothel atau lazimnya dalam Bahasa Indonesia disebut “rumah bordil”, adalah rumah prostitusi yang hingga saat ini masih beroperasi di Kalgoorlie. Dulunya banyak brothel berjajar di area Hay Street, namun seiring perkembangan zaman, hanya satu brothel yang tersisa – yang saat ini merupakan brothel tertua di Australia – Questa Casa. Dalam tur ini, anak pemilik yang juga merangkap sebagai pengelola brothel akan memaparkan secara gamblang gelap terang bisnis prostitusi di Kalgoorlie. Pengunjung juga akan dibawa masuk untuk melongok ke beberapa kamar pekerja yang hingga saat ini masih aktif digunakan.

Processed with VSCO with hb1 preset

Questa Casa Brothel

Processed with VSCO with hb1 preset

Questa Casa Brothel

Processed with VSCO with hb1 preset

Brothel Tour in Kalgoorlie

My Heart Left in San Francisco

 “San Francisco is perhaps the most European of all American Cities”

(Cecil Beaton)

Processed with VSCO with hb1 preset

Jika Anda berniat untuk mengunjungi negara Paman Sam dan bingung memilih destinasi kota mana saja yang patut masuk dalam bucket list perjalanan wisata, San Francisco patut Anda masukkan dalam urutan prioritas kota yang wajib dikunjungi. Terletak di wilayah utara California, dengan dikelilingi Teluk San Francisco dan Samudra Pasifik, kota ini sungguh memiliki daya tarik alam yang sempurna. Ditambah dengan topografi kota yang berbukit, jalan-jalan Anda ke kota “Paris of The West” ini dipastikan akan selalu diiringi oleh decak kagum.

Processed with VSCO with hb1 preset

Lombard Street

Kunjungan ke San Francisco adalah bagian dari rangkaian perjalanan wisata West Coast kami di bulan Agustus 2016 lalu. Dari teriknya cuaca Los Angeles dan Las Vegas, temperatur tubuh seakan dipaksa untuk beradaptasi cepat dengan suhu udara kota San Francisco, dingin berangin. Benar adanya tips yang saya baca dari salah satu situs wisata San Francisco, selalu persiapkan pakaian berlapis, karena angin dingin dari Samudra Pasifik dapat secara instan merubah temperatur kota. Setelan jeans, sweater, dan sepatu tertutup adalah tipikal gaya berpakaian warga San Fran di “musim panas”.

2016-08-21 09.08.43 1.jpg

Oakland City

2016-08-21 07.23.58 1.jpg

Marriott City Center, Oakland

Processed with VSCO with a5 preset

Breakfast at the Fat Lady, Oakland

Selama tiga hari di San Francisco kami sengaja memilih penginapan di kota tetangga, Oakland. Sebagai kota berpenduduk terpadat kedua di Amerika setelah New York, terutama dengan daya pikatnya sebagai pusat bisnis dan wisata California, tak mengherankan harga hotel dan penginapan di kota ini lebih mahal dari harga pasaran pada umumnya. Terkoneksi dengan jalur kereta BART (Bay Area Rapid Transit), hanya dengan waktu tempuh 13 menit kami dapat berkomuter dengan efisien lintas Oakland – San Francisco. Jangan ragu untuk menggunakan fasilitas transportasi publik disini, hanya dengan membeli kartu transportasi isi ulang Clipper Card, Anda akan sangat dimudahkan dengan koneksi moda transportasi Bay Area, mulai dari BART, Muni Bus, Muni Metro hingga transportasi iconic di kota ini: Cable Car!

Processed with VSCO with c1 preset

The cable car

2016-08-21 02.42.18 1.jpg

The Golden Gate

2016-08-21 02.56.42 1.jpg

Destinasi utama kami di hari pertama tidak lain adalah mengunjungi ikon terpenting kota ini, Golden Gate Bridge. Sebagai landmark yang visualnya paling banyak diabadikan di dunia, ternyata terdapat beberapa angle yang direkomendasikan untuk mendapatkan hasil visual fotografi terbaik berdasarkan posisi matahari dan arah kabut, yakni dari Fort Point untuk angle foto terbaik di pagi hari, angle dari Baker Beach untuk siang hari, dan dari Tanjung Marin untuk visual terbaik di sore dan malam hari. Cukup rumit ya. Tapi demi hasil fotografi terbaik tidak ada salahnya mencoba saran diatas.

Processed with VSCO with hb2 preset

Fisherman’s Wharf

Jika Anda penggila masakan laut, Anda wajib mengunjungi Fisherman’s Wharf. Anda akan menemukan beragam restoran dan penjaja makanan laut siap saji berjajar. Duduk di pinggir dermaga dengan menikmati bread bowl soup hangat dan sekotak gorengan squid rings adalah kenikmatan sempurna yang saya rasakan kala itu. Untuk makan malam, kami sengaja mengunjungi Applebee’s Grill and Bar yang terletak tepat di seberang Fisherman’s Wharf. 

Processed with VSCO with hb1 preset

Pier 39

Spot wisata lain yang tak kalah menarik adalah Pier 39. Dermaga ini menyuguhkan sederetan restoran, toko souvenir dan lapak-lapak penjaja cemilan dan buah segar yang berjajar rapi disepanjang jalan menuju dermaga. Sebungkus donat bertabur gula kayu manis dan setangkup hotdog kami beli sebagai teman jalan menikmati sore kala itu. Dari sini Anda dapat melihat penjara Alcatraz dari kejauhan. 

Processed with VSCO with hb1 preset

Union Square

Processed with VSCO with hb2 preset

Union Square

Processed with VSCO with hb1 preset

Lombard Street

Processed with VSCO with a5 preset

Lombard Street

Destinasi wisata selanjutnya yang kami tuju adalah Lombard Street. Terkenal sebagai jalan paling berkelok di dunia, Lombard Street menyuguhkan pemandangan rumah-rumah cantik dan teluk jika Anda berdiri dari sisi atas. Turun kebawah, Anda baru akan menyaksikan keunikan dari jalan ini. Akses menuju Lombard Steet dapat ditempuh dengan menggunakan cable car dari distrik perbelanjaan Union Square. 

Di hari terakhir, liburan kami tutup dengan mengunjungi distrik eksentrik di San Francisco, Haight Ashbury. Distrik ini dikenal sebagai asal kelahiran kultur hippie. Salah satu restoran rekomendasi kami adalah restoran Karibian, Cha Cha Cha. Terbaik.

2016-08-23 06.49.58 1.jpg

Cha Cha Cha, Haight Ashbury

Being a Queen in Oman

“Muscat is a port the like of which cannot be found in the whole world where there is business and good things that cannot be found elsewhere”  

Ahmed bin Majid al Najdi

Processed with VSCO with hb2 preset

Sultan Qaboos Grand Mosque

Ide untuk mengunjungi negara baru selalu muncul tiba-tiba. Tentunya kemudahan urusan perizinan visa menjadi pertimbangan utama, terutama lagi untuk saya, pemegang paspor hijau Indonesia. Kali ini, jika Anda berminat untuk mengunjungi negara Timur Tengah tanpa ingin direpotkan dengan kerumitan izin berkunjung, negara Oman (Sultanate of Oman) sangat patut Anda pertimbangkan. Tidak seutuhnya bebas visa, namun dengan hanya membayar biaya Visa on Arrival sebesar 5 Omani Rial, Anda sudah dapat mengekplorasi negara Oman selama 10 hari.

Processed with VSCO with hb2 preset

Sultan Qaboos Grand Mosque

Diuntungkan dengan keindahan deretan pegunungan, garis pantai, padang gurun, dan perkembangan pesat Muscat sebagai ibukota negara, Oman berhasil menarik minat kunjungan wisatawan asing luar negara Arab, salah satunya kami. Tidak menampakkan wajah negara Arab yang konservatif, Oman hadir sebagai negara Islam modern yang ramah terhadap peradaban kontemporer. Para turis asing di negara ini akan sangat terbantu karena mayoritas masyarakat Oman dapat berbahasa Inggris dengan baik. Terlebih, masjid-masjid bersejarah di negara ini terbuka bagi umat non-muslim.

Processed with VSCO with hb2 preset

Kota tujuan kami di negara ini adalah Muscat. Tiga hari kami alokasikan untuk mengekspolarasi destinasi wisata Muscat, dan selanjutnya telah kami agendakan untuk mengunjungi negara tetangga Oman, yaitu Bahrain. Di Oman entah mengapa kami jarang menemui wanita. Negara ini seakan dihuni oleh kaum pria. Jika mengunjungi pusat perbelanjaan dan restoran, Anda kemungkinan besar akan lebih sering dilayani kaum pria, dan jikapun dilayani staf wanita, mereka mayoritas adalah pekerja asing asal Filipina. Para wanita pekerja asing maupun turis wanita tidak diwajibkan memakai penutup rambut ataupun jilbab. Tidak ada rambu-rambu khusus dalam hal perpakaian di negara ini.

Processed with VSCO with g3 preset

The Interior of Sultan Qaboos Grand Mosque

Destinasi pertama kami setiba di Muscat adalah Sultan Qaboos Grand Mosque, terletak di Distrik Bawshar, masjid ini berdiri kokoh, dapat diimajinasikan sebagai menara mercusuar yang menarik minat para pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan semangat Islam sebagai agama, ilmu, dan peradaban. Seakan memancarkan semangat magis, masjid ini dengan semua keindahan arsitekturnya berhasil membuat saya terkesima dan merasakan ketenangan batin di tengah teriknya Muscat saat itu. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di Oman dengan karpet rajutan tangan dan lampu chandelier terbesar kedua di dunia. Menurut informasi, hamparan karpet indah di masjid ini dirajut oleh 600 pekerja wanita dengan lama pengerjaan hingga 4 tahun!

2017-01-26 11.58.01 1.jpg

Mutrah Souq (Mutrah Market)

2017-01-25 10.29.59 1.jpg

Souvenirs at Mutrah Souq

Puas mengelilingi Sultan Qaboos Grand Mosque, kami menyempatkan untuk mengunjungi pasar tradisional tertua di kota ini, Mutrah Souq. Pasar yang telah berdiri lebih dari 200 tahun ini menjual beragam kebutuhan, mulai dari tekstil, barang pecah belah, perhiasan, rempah-rempah, dan tentunya suvenir ala Timur Tengah. Di sepanjang jalan menuju pasar banyak berjajar restoran lokal dengan konsep outdoor dining yang dijejali pengunjung lokal dan turis asing. Kami tentunya menyempatkan untuk mencicipi kuliner lokal sembari menikmati hembusan angin teluk hingga menjelang senja.

Processed with VSCO with f2 preset

Sign at Nizwa Fort

Di hari kedua, kami berwisata keluar dari Muscat. Khusus untuk hari kedua ini, kami sengaja memesan paket wisata day tour untuk kunjungan ke Oman Grand Canyon  (Jebel Shams). Memulai perjalanan di pagi hari, pemandu wisata yang juga merangkap sebagai pengemudi kami menjemput  di hotel tepat setelah sarapan pagi. Kali ini kami mengambil paket wisata privat. Dengan mengendarai mobil selama kurang lebih 2 jam dari Muscat, pemberhentian pertama kami adalah benteng historis Nizwa (Nizwa Fort). Nizwa Fort sungguh wajib Anda kunjungi. Didirkan oleh Imam Sultan Bin Saif Al Y’aribi di pertengahan abad ke 17, benteng historis ini menghabiskan 12 tahun dalam proses konstruksinya. Naik ke lantai atas benteng, Anda akan dibuat terbelalak dengan panorama pegunungan Hajar.

2017-01-25 08.50.29 1.jpg

View from Nizwa Fort

Processed with VSCO with a5 preset

Hajar Mountains view from Nizwa Fort

Processed with VSCO with hb1 preset

Nizwa Fort

Processed with VSCO with hb1 preset

Hiding inside Nizwa Fort

Tak jauh dari Nizwa Fort, dengan berjalan kaki, Anda dapat mengunjungi Nizwa Souq. Pasar tradisional ini terkenal dengan kerajinan tanah liat dan perak, disamping juga menjual daging segar dan rempah-rempah. Untuk para turis, bersiaplah untuk menawar karena harga barang kerajinan disini tergolong mahal untuk kalangan wisatawan. Yang unik dari tradisi perdagangan di Oman, Anda hanya akan menjumpai pria dalam setiap aktivitas jual beli. Sangat akan sangat jarang menemui wanita di pasar tradisional kecuali turis seperti saya.

2017-01-26 11.53.16 1.jpg

Nizwa Souq (Nizwa Market)

Puas mengelilingi Nizwa Fort dan Nizwa Souq, kami melanjutkan perjalanan menuju Oman Grand Canyon. Bersiaplah untuk berkendara dengan medan tanjakan yang memutar. Beruntung sekali pemandu wisata kami saat memahami medan, rasa pusing kepala seakan bisa diantisipasi karena kami selalu diperingatkan jika mendekati medan turunan memutar atau sudut belokan yang tajam. Jika Anda memiliki waktu cukup lama di Muscat, Anda dapat bermalam di salah satu penginapan di Grand Canyon. Aktivitas berkemah juga marak ditawarkan oleh agen wisata Oman. Melihat langsung matahari terbit dan senja disini dari Grand Canyon tentunya akan sangat memukau mata.

Processed with VSCO with c1 preset

Al Bustan Palace

2017-01-25 09.31.26 1.jpg

Private Beach at the Palace

Processed with VSCO with hb2 preset

Al Bustan Palace Main Lobby

Lelah berkeliling mengunjungi objek-objek wisata menawan di kota ini, kami putuskan untuk mengisi hari ketiga kami di Oman untuk menginap di resort terbesar di negara ini, Al Bustan Palace. Jika Anda tipe penikmat liburan ‘staycation‘, merogoh kocek lebih untuk menikmati sensasi menginap di ‘istana’ ini tentunya sangat rugi untuk dilewatkan. Dikelilingi jajaran pegunungan Hajar dan berbatasan langsung dengan Laut Oman, seharian berdiam di resort tentunya tidak akan mengurangi kepuasan berlibur. Jika ditanya, apa yang paling dirindukan dari Oman? Jawab saya: Al Bustan Palace! (Tentunya jika kembali dapat rate promo)

Rottnest Island & Quokka Selfie

“The peaceful splendour of the night healed again. The moon was now past the meridian and travelling down the west. It was at its full, and very bright, riding through the empty blue sky.” (H.G. Wells)
Processed with VSCO with a5 preset

Rottnest is heaven for birds

Menikmati liburan panjang di Australia Barat berlum sah rasanya jika belum mengunjungi Pulau Rottnest. Pulau cantik yang oleh warga Australia kerap disebut “Rotto” ini menawarkan beragam keindahan alam dan aktivitas rekreasi alam menarik. Terletak 19 kilometer dari Barat Fremantle, akses menuju Pulau Rottnest dapat ditempuh dengan menggunakan ferry dengan akses tiga pelabuhan transfer, yakni Perth City, Rous Head Harbour, dan Victoria Quay Harbour. Sementara jika Anda ingin dijamu lebih dari sisi pemadangan, tidak ada salahnya sedikit merogoh kocek lebih untuk mencoba moda trasportasi udara menuju Pulau Rottnest. Rottnest Air-Taxi dan transportasi helikopter siap menyuguhi Anda dengan pemandangan alam yang pastinya akan membuat Anda terkagum.

Processed with VSCO with hb1 preset

The blue sky

Kunjungan kami ke Pulau Rottnest ini adalah agenda perjalanan yang beberapa kali telah tertunda. Awalnya kami berencana untuk menikmati liburan getaway ini di musim panas. Sayangnya hotel yang kami tuju selalu penuh. Jadi pastikan bahwa Anda telah memesan penginapan jauh hari. Namun berkunjung sehari tanpa menginap pun tidak akan mengurangi kenikmatan liburan Rottnest Anda.

Hotel rekomendasi kami adalah Hotel Rottnest. Berhadapan langsung dengan pantai, hotel historis ini menyuguhkan kenyamanan bermalam dengan fasilitas open bar dengan alunan live music sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati matahari senja. Jika ingin mendapatkan kepuasan lebih, tidak ada salahnya coba untuk memesan kamar premium Bayside yang memiliki pemandangan spektakuler Teluk Thompson dan oasis Pulau Rottnest.

Processed with VSCO with a6 preset

Rottnest Hotel

Disamping sebagai destinasi rekreasi keluarga, eksotika Pulau Rottnest juga banyak menarik minat para pasangan untuk melangsungkan resepsi pernikahan alam terbuka disini. Mengucapkan janji suci pernikahan dibawah siraman matahari senja diiringi pekikan burung dan deburan ombak pantai tentunya menjadi alternatif gaya resepsi pernikahan yang diidamkan para pasangan Australia Barat.

Setiba di Rottnest kami tidak ingin melewatkan momen tenggelamnya senja emas Rottnest. Duduk beralaskan rumput segar, semilir angin musim dingin semakin menambah ketenangan sore itu. Pastinya Anda tidak akan merasa bosan karena sekelompok Quokka akan menemani Anda menikmati pergantian hari hingga gelap tiba. Bepose selfie dengan Quokka dapat Anda jadikan oleh-oleh momen liburan di Rottnest.

Processed with VSCO with a5 preset

Winter in Rottnest

Quokka (Latin: Setonix brachyurus) adalah hewan jinak yang populasinya sangat dilindungi oleh pemerintah Australia Barat. Anda dapat bermain dan ber-selfie dengan para Quokka, namun dilarang untuk memberi makan, mengusik, atau bahkan hingga membawa pulang Quokka dari Pulau Rottnest. Jika Anda kedapatan melakukan interaksi terlarang diatas, pemerintah Australia Barat tidak segan-segan untuk menjatuhkan sanksi denda hingga $50,000 dan ancaman hukuman penjara.

Processed with VSCO with a6 preset

Quokka is the happiest animal on earth

Tak ingin cepat menghabiskan malam di Pulau Rottnest, selepas matahari terbenam kami mulai mengeksporasi area pulau dengan berjalan kaki. Malam itu kami isi dengan bermain mini golf. Jika Anda penggemar olahraga golf, Pulau Rottnest memiliki fasilitas padang golf dalam area Rottnest Island Country Club yang pantas untuk Anda kunjungi. Melanjutkan aktivitas malam kami Pulau Rottnest, kami sempatkan untuk menikmati keindahan kerlip cahaya laut dari restoran pinggir laut Aristos. Sepiring seafood platter rekomendasi chef sangat membahagiakan saya malam itu.

Processed with VSCO with a5 preset

Rottnest Island Picture Hall

Malam itu Matt mengajak saya untuk menonton film di bioskop lokal Rottnest, Rottnest Island Picture Hall. Dengan membayari tiket dewasa $15 Anda sudah dapat menikmati suguhan film blockbuster terkini dengan sensasi menonton film ala pantai. Dengan desain kursi jaring-jaring dan kipas angin sebagai penyejuk ruangan, yakinlah pengalaman nonton bioskop ala Rottnest ini sayang untuk dilewatkan. Film yang saat ini sedang diputar adalah “Eddie The Eagle”, sangat menghibur dengan penutup segukan tangis haru penonton.

Processed with VSCO with a5 preset

Walking at the beach

Untuk mengisi hari, jika Anda pecinta olah raga adu gelombang ombak, kunjungan Anda ke Rottnest adalah sangat tepat, karena Pulau seluas 19 kilometer persegi ini memiliki beberapa spot surfing populer Australia Barat, yakni Strickland Bay, Salmon Bay and Stark Bay. Aktivitas uji adrenalin lain yang dapat Anda coba adalah skydiving. Melakukan tandem skydive dari ketinggian 15,000 kaki diatas pulau Rottnest pastinya akan membuat Anda ketagihan kembali ke Rottnest. Jika Anda lebih meminati aktivitas santai, mengelilingi daratan Pulau Rottnest dengan sepeda adalah pilihan paling tepat.

Processed with VSCO with hb1 preset

Cycling at Rottnest Island

Penyewaan sepeda dengan segala jenis dan ukuran tersedia disini. Banyak pula pengunjung yang membawa sepeda pribadi dari rumah. Persiapkan pelindung kepala karena medan bersepeda yang akan Anda tempuh akan banyak menanjak dan menuruni perbukitan. Safety first! Bersiplah karena Anda akan sangat dimanjakan dengan pemandangan alam, danau, kincir angin, menara-menara mercusuar, dan pantai-pantai dengan pasir putih.

The Nomads Life: Mongolia

Mongolia!

Perjalanan ke Negeri Nomad Genggis Khan ini merupakan salah satu rencana Tuhan yang tak terduga. Bagaimana peradaban hidup  masyarakat Mongolia saja belum terlalu jelas tergambar dalam benak saya ketika Matt saat itu memunculkan ide adventurous untuk mengunjugi negara Asia Timur di perbatasan Russia ini.

Processed with VSCO with hb1 preset

The Turtle Rock, Gorkhi Terelj

Kunjungan ke Mongolia kami susun sebagai grand trip rangkaian wisata Asia Timur kami di akhir tahun 2014. Yang sebelumnya kami mulai dari perjalanan mengunjungi Hong Kong dan Tiongkok. Tiba di Ulaanbaatar (Ulan Bator) pada 28 Desember 2014 di malam hari dengan penerbangan MIAT Mongolian Airlines, kami disambut dengan dinginnya udara malam Mongolia, yakni di titik -37 derajat celcius.

Persiapan keluar dari Bandara Internasional Chinggis Khan tak ubahnya seperti persiapan perang gurun di musim badai untuk saya. Diantara kerumunan penumpang pesawat, tidak sulit membedakan bentuk fisik warga negara Mongolia dengan bangsa Asia Timur lainnya, bangsa Mongol cenderung berwajah dengan kontur tajam bak ksatria Asia, dengan postur tegap dan besar baik untuk pria dan wanita nya.

2016-12-08 10.17.50 1.jpg

Genghis Khan Museum

2016-12-08 06.07.15 1.jpg

Vulture, Gorkhi Terelj

Menjadi turis Indonesia di negara Mongolia tentunya menjadi memori unik tersendiri. Proses pengajuan visa Mongolia yang bisa dibilang menghabiskan biaya dan usaha yang berlipat terbayarkan dengan pengalaman luar biasa seperti salah satunya mengunjungi salah satu keluarga nomad di area perbukitan Gorkhi Terelj. Dengan menjadwalkan perjalanan dengan salah satu agen wisata lokal, kami dijawalkan berkunjung ke sejumlah titik wisata diluar Ulaanbaatar dan sejenak menikmati kearifan lokal masyarakat nomad dalam “Yurt”, rumah tradisional Mongolia.

2016-12-08 06.06.01 1.jpg

Nomad’s traditional house: Yurt

2017-01-22 03.37.32 1.jpg

Home made traditional snacks from milk

2017-01-23 03.10.18 1.jpg

Shamanism pray area

Saya dan Matt sebelumnya sengaja telah mempersiapkan buah tangan snack untuk anak-anak dari swalayan lokal karena keluarga nomad yang akan kami kunjungi memiliki dua anak kecil usia sekolah dasar. Datang dengan sambutan hangat kami diajak mengelilingi area yurt yang bersebelahan langsung dengan bukit sebagai penangkal panasnya matahari untuk ternak mereka.

Sajian yang dipersiapkan tuan rumah tentunya sangat tradisional, yakni kami disuguhi makanan dan minuman dengan bahan dasar susu sapi yang diperah dari hasil ternak keluarga. Olahan susu ini mereka sebut “tsaagan idee”, yang dimaknai sebagai simbol sifat ketidak-egoisan, kesucian, dan kebaikan.

Processed with VSCO with hb1 preset

Sky Resort, Bogd Khan Uul

 

Processed with VSCO with hb1 preset

Had fun at the Sky Resort

Setelah satu hari kami habiskan untuk menikmati keindahan alam di luar Ulaanbaatar, destinasi wisata selanjutnya yang kami pilih adalah Sky Resort Mongolia, salah satu spot wisata lokal di wilayah Bogd Khan Uul. Para dewasa dengan hingga para bayi berpipi merah yang dibungkus dengan selimut thermal turut meramaikan hari libur tahun baru 2015 dengan bermain salju saat itu.

2017-01-23 03.13.29 1.jpg

City Centre

Wisata kami lanjutkan dengan mengeksplorasi kota Ulaanbaatar yang ternyata diam-diam cukup membahayakan jika tidak waspada, terutama untuk para turis Kaukasian. Copet lokal Mongolia cukup berani beraksi di area umum yang sepi, dua kali dalam beberapa jam kami hampir saja jadi korban para penceluk lokal. Nekat tapi masih perlu berguru dari kelihaian copet Jakarta.

The Romantic City of Venezia

“An orange gem resting on blue glass plate: It’s Venice seen from above”

(Henry James).

Processed with VSCO with a5 preset

Gondolas and the sparkling river of Venice

Penggalan quotes ini rasanya sangat mewakili kecantikan dan romatisme kota Venice (Italian: Venezia) di benak saya. Kesan atas kunjungan saya ke Venice masih sangat membekas dengan sempurna dalam peta memori liburan di kepala. 

Kota kecil yang terletak di Timur Laut Italia ini menawarkan keindahan luar biasa yang menjadi daya pikat kehadiran pelancong setiap musimnya. Deretan gondola yang terparkir di tiap sisi sungai, kesibukan pramusaji yang berdiri siap menyapa tiap pelancong yang berlalu-lalang, dan sahut-menyahut nyanyian para gondoliers adalah sedikit dari gambaran keunikan Kota Kanal Venice.

2017-01-01 06.19.29 1.jpg

Sunset and Venice city lights

Setiba di Venice, Saya dan Matt langsung menyusuri setiap lorong yang seakan di rancang bagai labirin bagi para turis, seakan memerintahkan tatap terus navigasi GPS jika tak ingin tersesat di gang buntu. Tapi tersesat pun bukan menjadi musibah jika Anda sedang di kota Venice. Bagi penikmat seni, terutama kaum Hawa, mata akan sangat dimanjakan dengan deretan toko souvenir lokal yang memajang beragam bentuk kerajinan cantik hasil olahan “Murano Glass” dan topeng tradisional Venezia. Sangking terpukaunya dengan hasil olahan Murano Glass, saya hingga lupa mengambil foto isi toko souvenir yang kami kunjungi.

2016-12-31 05.31.55 1.jpg

Venice golden sunset

Saya dan Matt menyempatkan untuk menikmati setiap kelokan canal street dengan menyewa gondola sebagai must thing to do kami di Venice. Mata kami tentunya tak lepas dari deretan hunian tua dengan beragam warna terang dan beragam bentuk eksterior balkon dan jendela yang seakan saling berkompetisi untuk menjadi objek jepretan para turis gondola. Benar saja, pria pengayuh gondola sewaan kami menceritakan bahwa kemegahan eksterior jendela menjadi salah satu cara bagi penduduk Venice masa lalu dalam menunjukkan status sosialnya.

Processed with VSCO with a6 preset

The City of Canals

Wisata kuliner tentunya menjadi hal terpenting dari segalanya (bagi saya). Sayangnya tidak semua restoran terbaik rekomendasi Tripadvisor dengan jarak terdekat dari kami buka pada saat itu. Pilihan jatuh pada kedai kecil crepes di pinggir sungai, Cocoeta. Dan ini crepes pesanan saya. Rasanya sungguh alamak membuat saya refleks mengucapkan komplimen pada Chef Guilio, “…this the best crepe I’ve ever had in my life!”

2016-12-31 04.22.36 1.jpg

Cocoeta’s Super Crepe by Giulio

Puas mencicipi makanan dan mengeksplorasi setiap lorong di Venice, saya dan Matt berjalan menuju St. Mark’s Square. Sebagai salah satu highlight keromantisan kota ini, ratusan burung merpati akan menyambut Anda. Sayangnya para turis dilarang untuk memberi makan burung di area ini karena pemerintah setempat menilai populasi burung yang semakin berkembang biak berdampak pada pengrusakan situs-situs bangunan penting di area balai kota ini.

2017-01-01 05.16.50 1 (1).jpg

Pigeons at St. Mark’s Square